Tuesday, February 2, 2016

MODE



Mode atau fesyen (Inggrisfashion) adalah gaya berpakaian yang populer dalam suatu budaya. Secara umum, fesyen termasuk masakan, bahasa, seni, dan arsitektur.

Etimologi[sunting | sunting sumber]

Dikarenakan fesyen belum terdaftar dalam bahasa Indonesia, maka mode adalah kata untuk bahasa resminya. Secara etimologi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, mode merupakan bentuk nomina yang bermakna ragam cara atau bentuk terbaru pada suatu waktu tertentu (tata pakaian, potongan rambut, corak hiasan, dan sebagainya). Gaya dapat berubah dengan cepat. Mode yang dikenakan oleh seseorang mampu mecerminkan siapa si pengguna tersebut.
Thomas Carlyle mengatakan, "Pakaian adalah perlambang jiwa. Pakaian tak bisa dipisahkan dari perkembangan sejarah kehidupan dan budaya manusia." Fesyen dimetaforakan sebagai kulit sosial yang membawa pesan dan gaya hidup suatu komunitas tertentu yang merupakan bagian dari kehidupan sosial. Di samping itu, mode juga mengekspresikan identitas tertentu.

Fesyen dan gaya hidup[sunting | sunting sumber]

Fesyen yang dipilih seseorang bisa menunjukkan bagaimana seseorang tersebut memilih gaya hidup yang dilakukan. Seseorang yang sangat fashionable, secara tidak langsung mengkonstruksi dirinya sebagai seseorang dengan gaya hidup modern dan selalu mengikuti tren yang ada. Hal ini menunjukkan bahwa dalam dunia modern, gaya hidup membantu menentukan sikap dan nilai-nilai serta menunjukkan status sosial.

Fesyen dan komunikasi[sunting | sunting sumber]

Menurut Malcolm Barnard, etimologi kata fashion terkait dengan bahasa Latinfactio artinya "membuat". Karena itu, arti asli fesyen adalah sesuatu kegiatan yang dilakukan seseorang. Sekarang, terjadi penyempitan makna dari fesyen. Fesyen sebagai sesuatu yang dikenakan seseorang, khususnya pakaian beserta aksesorinya.
Fesyen didefinisikan sebagai sesuatu bentuk dan jenis tata cara atau cara bertindak. Polhemus dan Procter menunjukkan bahwa dalam masyarakat kontemporer barat, istilah fesyen kerap digunakan sebagai sinonim dari istilah dandanan, gaya, dan busana.

Kota fesyen[sunting | sunting sumber]

Beberapa kota dianggap sebagai pusat fesyen dunia adalah New YorkMilanParis, dan London.

Sejarah fesyen[sunting | sunting sumber]

Fashion adalah suatu sistem penanda dari perubahan budaya menurut suatu kelompok atau adat tertentu. Bisa juga sebagai strata pembagian kelas, status, pekerjaan dan kebutuhan untuk menyeragamkan suatu pakaian yang sedang merek. Berikut ini adalah daftar urutan fesyen dari terdahulu hingga terbaru:

Medieval[sunting | sunting sumber]

Sekitar tahun 1000 Masehi, fesyen dengan gaya Eropa klasik abad ke-16 terlihat memiliki baju yang besar dan tidak minimalis, pada zaman tersebut semua model sangat terkesan sopan.

1910 - 1930[sunting | sunting sumber]

Fesyen model ini masih ada dan digunakan hingga sekarang, pakaian yang sederhana dengan topi bundar bagi perempuan dan topi baret bagi laki-laki. Kemeja yang biasa digunakan untuk kegiatan resmi seperti setelan jas yang biasa digunakan hingga saat ini.

1940 - 1950[sunting | sunting sumber]

Era Perang Dunia II dan Perang Dingin, masa-masa klasikal saat foto mulai marak. Pakaian yang berkerah bundar dan lebar dengan baju luaran mulai populer. Model Pria masih sama dengan era fesyen sebelumnya, sopan dengan topi dan jas.

1970 – 1980[sunting | sunting sumber]

Pada era ini semua orang sudah mengenal fesyen. Dengan terkenalnya Madonna pada tahun 1980-an, Elvis Presley pada tahun 1970-an, dan perkembangan televisi memulai perkembangan fesyen secara global. Mulai ada pakaian bernuansa gothic. Pakaian berbahan denim mulai sangat populer seiring populernya musik disko.

1990 – sekarang[sunting | sunting sumber]

Hampir semua bangsa mempunyai andil dalam menciptakan tren fesyen di masing-masing negaranya, di setiap negara biasanya memiliki tren tersendiri dan presepsi yang berbeda dalam berekspresi tentang fesyen, sehingga fesyen yang tercipta hampir tidak ada batasannya pada era ini.

Referensi[sunting | sunting sumber]

  • Barnard, Malcolm. 2007. Fashion sebagai komunikasi, Jalasutra, Jogja
  • Chaney, David. 2008. Lifestyle, Jalasutra, Jogja
sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Mode

teknik sablon

didalam bisnis clothing sangat kental dengan sablon, karena dengan sablon berbagai desain gambar yang menjadi ide pemilik distro dapat diterapkan kedalam sablon sehingga akan menghiasi baju yang menjadi product nya,

dengan sablon ini juga sehingga keliatan karakter dari pemilik distro tersebut dengan gambar-gambar yang dia terapkan kedalam sablonan tersebut sehingga akan tergambar karakter dari product nya, apakah karakternya sporty, abstrak, pop art, arsitektur, kartun, gagah, maupun feminim, semua karakter dapat tergambar dalam sablon tersebut.

dan teknik sablon pun terbagi menjadi berbagai macam seperti :
1. sablon rubber - sablon rubber ini dulu sangat digemari dan cenderung mudah dibuat, namun kekurangannya yaitu mudah ngelupas setelah beberapa x dicuci, biasanya diakali dengan menggunakan penguat dengan harter untuk menutupi sablonan rubbernya sehingga akan kuat untuk di setrika dan di cuci berkali-kali
2. sablon plastisol - sablonan ini sekarang sedang naik daun karena sablonannya cukup kuat dan gak akan retak di baju, namun kekurangan nya susah kering karena merupakan sablonan minyak sehingga harus di panaskan agar cepat kering, apabila banyak warna akan sangat kerepotan karena harus nunggu kering untuk naik ke warna berikutnya, namun bisa diakali dengan menggunakan pemanas bantuan baik itu di pres panas atau dengan menggunakan hair drayer
3. sablon foam - sablon ini sempat populer namun tidak bertahan lama karena kesannya norak, karena sablon foam ini menyebabkan kesan timbul dari sablonan tersebut setelah dipanaskan, dan terkesan norak karena biasanya hanya di pakai untuk tulisan saja.

itulah beberapa teknik sablon yang biasa digunakan dalambisnis clothing dan distro.

nanti kita akan berlanjut kembali dengan pembahasan berikut nya.
ditunggu ya sobat curat-coret semuanya.

salam,
melodic.corp